BRICS Tegaskan Peran Digital, AI, dan Kesehatan Global di KTT Brasil

Brics-brasil-2025.jpeg

KOMPASIA.id – Di ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 di Rio de Janeiro (6–7 Juli 2025), para pemimpin Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan mengambil langkah strategis: mereka menandatangani deklarasi ambisius yang mencakup tema global kesehatan, tata kelola kecerdasan buatan (AI), serta penyusunan tatanan digital yang inklusif dan berkelanjutan. India diumumkan sebagai ketua BRICS untuk tahun 2026, dengan fokus kuat pada peran global dalam regulasi AI.

Deklarasi resmi yang diluncurkan dalam KTT ini menetapkan tiga prioritas utama bagi blok BRICS:

1. Penguatan Tata Kelola AI Internasional

BRICS mendesak PBB mengambil peran sentral dalam mengembangkan kerangka regulasi AI global—yang bersifat inklusif, etis, dan memperkuat kolaborasi Global South.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, secara tegas menyerukan agar BRICS bersama-sama membangun “AI yang bertanggung jawab,” yang memperhatikan etika, transparansi, dan ketahanan pasokan mineral kritis.

2.Aksi Global di Bidang Kesehatan

Para pemimpin menyatakan dukungannya terhadap WHO dan peluncuran Partnership for the Elimination of Socially Determined Diseases—inisiatif bersama untuk memberantas penyakit yang didorong ketidaksetaraan sosial, seperti tuberkulosis.

3. Penguatan Tata Kelola Global & Digital Public Infrastructure

Deklarasi menegaskan pentingnya digitalisasi inklusif dan transformasi ekonomi digital. Teknologi seperti 5G, sistem satelit, dan jaringan publik digital menjadi fokus penguatan antarnegara BRICS untuk meningkatkan pemerataan akses teknologi.


Bagi Indonesia dan kawasan ASEAN, hasil KTT BRICS 2025 memiliki gema yang kuat. Dorongan BRICS untuk merancang regulasi AI melalui PBB membuka ruang bagi negara-negara Asia Tenggara untuk ikut terlibat dalam perumusan tata kelola global yang lebih adil. Indonesia, dengan inisiatif digitalisasi dari desa hingga kota, dapat menempatkan dirinya sebagai jembatan antara agenda Global South dan kerangka regulasi internasional.

Selain itu, penekanan BRICS pada digital public infrastructure sejalan dengan visi ASEAN dalam membangun ekosistem digital yang inklusif. Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga upaya mengurangi kesenjangan akses di tengah masyarakat. Bagi Indonesia, ini berarti kesempatan memperkuat agenda pemerataan internet, layanan publik digital, serta edukasi teknologi yang merata.

Di sisi lain, fokus BRICS pada kesehatan global melalui kemitraan lintas negara memberi inspirasi bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi kesehatan di kawasan. Kerja sama untuk memberantas penyakit yang berakar pada ketidaksetaraan sosial, seperti tuberkulosis, bisa menjadi ruang kolaborasi baru antara BRICS dan ASEAN.

Lebih jauh lagi, kehadiran India sebagai ketua BRICS 2026 memberi sinyal penting bagi kawasan. India yang juga bagian dari Indo-Pasifik, memiliki kedekatan strategis dengan ASEAN. Hal ini membuka peluang diplomasi yang lebih erat, di mana Indonesia dapat memainkan peran sentral sebagai penghubung antara BRICS dan Asia Tenggara, memperkuat posisi Global South dalam tatanan dunia yang lebih seimbang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *